Pages

Tricolour Rice

As we celebrate our Independence Day lets not forget to salute the people who made this happen. Let the tri colour fly high always.This month has been a busy one not because of anything else but holidays. It's hard to keep the boys busy.There has to be something on the menu to celebrate it in style. So here is my version of the tri colour rice. 



INGREDIENTS
Recipe - My own

 Long grain Rice/ Basmati Rice - 4 cups

For the saffron layer:
Onion - 2 cups (finely chopped)
Carrot - 2 cups (finely chopped)
Ginger Paste - 1  tbsp
Garlic Paste - 1 tbsp
Cumin Seeds - 1 tsp
Cinnamon - 2 inch piece
Clove - 4
Bay Leaves - 2
Vegetable Stock - 1 cube
Oil - 2 tbsp

For green layer:
Coriander Leaves - 1 cup (loosely packed)
Mint Leaves - 1/4 cup(loosely packed)
Onion - 1 large roughly chopped
Garlic - 4 cloves
Water - 1/4 cup
Salt - 1/4 tsp or as required

METHOD
Soak the rice for 1/2 hour.
Strain and cook it with enough water and salt. When it is almost cooked strain.
Divide the cooked rice into 3 equal portions.
In a wok heat 2 tbsp oil. Add in the cinnamon, clove and bay leaves.
Add in the onions and saute.
Add the stock cube and mix well.
Add in the carrot and stir till almost cooked. Check salt.
Transfer a portion of the white cooked rice and mix well to make the saffron layer.
In a blender combine the ingredients required for the green layer and blend until smooth.
Transfer it to a wok. Saute for 1 minute on medium flame.
Transfer the second portion of the rice. Mix well and saute for 2 minutes.
In a wide square glass bowl transfer the green rice to make the first layer. Then put in the white rice (3rd portion) for the second layer.
And top it with the saffron layer.
Serve it with vegetable korma, raita and pickle.


ReadmoreTricolour Rice

Ibuku Selangkah Lebih Maju

Tradisi keluarga kami setiap Idul Fitri adalah mengunjungi keluarga yang lebih tua, misalnya Pakdhe, Budhe (kakak dari Ibu), dan Simbah (ibu dari Abah). Idul Fitri kemarin pun begitu. Tempat yang pertama kami kunjungi adalah rumah Budhe di Siasem. Budhe ini istri dari kakak Ibu yang sudah meninggal.

Anak-anak Budhe ini semuanya lebih tua dariku dan sudah menikah. Mungkin karena mereka lebih tua, mereka pun enteng bertanya kepada Ibu, "Kapan mantunane?" Maksudnya adalah kapan aku, anak  Ibu yang cuantik, pintar, sholihah ini menikah. Halah, kok, aku jadi memfitnah diri sendiri begini? Tanpa diduga Ibu menjawab, "Bar bada." Maksudnya setelah lebaran. Heeeh? Aku cuma tertawa mendengar jawaban ngaco Ibu. Dilamar pun belum, bagaimana mau menikah? Budhe dan para sepupuku pun heboh, bertanya-tanya, "Temenan? Kapan?" Beneran? Kapan? Ibuku tetap pede menjawab kalau yang dikatakannya tadi itu benar. Ibu kemudian menambahkan, "Tanggal wolu, bada Syawal." Tanggal delapan, Lebaran Syawal.

Yang repot aku. Mereka menanyaiku, "Dapat orang mana?" Blah! Mesti jawab apa? Kalau yang bertanya sepupuku yang seumuran dan akrab, mungkin aku akan menjawab "orang Korea, artis terkenal, namanya Lee Dong Gun". Berhubung yang bertanya adalah sepupu yang tidak terlalu akrab denganku, aku cuma cengar-cengir.

Baca selengkapnya »
ReadmoreIbuku Selangkah Lebih Maju

Mudik (Lagi)

Aku mau cerita perjalanan mudikku kemarin. Apa? Bosan membaca cerita perjalanan mudikku? Yah, maap-maap saja. Aku masih suka bercerita tentang perjalananku. Maklum, ini, kan, blog geje yang isinya personal, suka-suka, dan banyak curhatnya.

Ada beberapa hal yang berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Apa saja?

Ganti Partner

Tahun 2013 ini adalah mudik lebaran dari Blangpidie yang kelima bagiku. Kali pertama aku mudik lebaran dari Blangpidie adalah tahun 2009. Dan selama 2009-2012 aku selalu mudik lebaran dengan Intan, kawanku yang penempatan di Aceh Selatan. Berhubung Intan sudah pindah ke Maluku sana mengikuti sang suami, aku tidak mudik dengannya lagi. Kupikir aku akan mudik sendirian. Ternyata Rika, kawan sekantorku, mengomporiku untuk membeli tiket pesawat di tanggal yang sama dengan kepulangannya. Dia juga mengompori Jamal, kawan sekantor kami. Jadilah kami memesan tiket pesawat untuk jadwal penerbangan yang sama.

Kami bertiga berangkat dari Blangpidie hari Jum'at tanggal 2 Agustus 2013, sekitar pukul delapan malam. Aku berangkat dalam kondisi yang kurang sehat. Beberapa hari sebelumnya aku sakit tapi sehari sebelum berangkat aku merasa sudah sembuh. Eh, malah di hari Jum'at aku kembali tidak enak badan. Dan parahnya, sopirnya ngebut agar tiba di Medan pukul enam pagi. Alhasil aku muntah dengan suksesnya. Ngisin-isini. Untung aku cuma pulang bareng Rika dan Jamal. Coba kalau aku bareng mas-mas ganteng seperti Noah Wyle, bisa rusak reputasiku kalau ketahuan gampang mabuk darat. Eh, tapi kalau semobil dengan orang seganteng Noah Wyle mungkin aku tidak akan mabuk, ya? Ah, sudahlah.

Sampai di Bandar Baru kami istirahat sekalian makan sahur. Kami bertemu Mbak Novel dan Nisa yang baru penempatan di Aceh Selatan. Dan komentar Mbak Novel sewaktu melihatku, "Dirimu, kok, membengkak sekali?" Hiks! Kejamnya! Sebegitu bengkakkah diriku sekarang? Terakhir kali aku bertemu Mbak Novel adalah tahun 2009, sewaktu mudik lebaran juga. Kebetulan waktu itu kami satu pesawat. Dan waktu itu aku memang belum segemuk saat ini. OK, cukup curhat tentang berat badannya. Mbak Novel juga mengomentari jaket PKL yang kupakai. Jaket itu memang sudah 'tua', umurnya sudah sekitar 6 tahun. Tapi, aku masih setia mengenakannya kalau bepergian jauh.

Jamal menawariku untuk bertukar tempat duduk setelah tahu aku muntah. Tadinya Jamal duduk di samping sopir sedangkan aku dan Rika di belakang sopir. Tadinya aku berpikir percuma saja duduk di depan kalau sopirnya horror. Tapi, setelah dipikir-pikir, kalau aku di depan, Rika bisa leluasa duduk di belakang sopir sendirian, dan Jamal bisa mengungsi ke kursi paling belakang, sendirian juga. Akhirnya aku duduk di samping sopir. Dan Alhamdulillaah, biarpun mual, aku tidak muntah.
Baca selengkapnya »
ReadmoreMudik (Lagi)

Nongal Fry / Kerala Style Lady Fish Fry

A Kerala meal is not complete without a Meen Porichadu or Fish fry. Fish in Kerala is called 'Meen'. You can have it as a starter or along with the meal with rice and curry. Living on the coastal belt of Kerala, fish is considered a staple food. Lady Fish is called Nongal in Malayalam and Kane in Kannada. It is one of the most preferred fish in my house. It is so soft and tasty. For all the fish lovers here is the typical Kerala Fish Fry. 


A typical Kerala lunch platter for non vegetarians will consist of boiled rice, Kerala fish curry, vegetable curry, vegetable dry and fish fry. This is part of the daily menu.




INGREDIENTS

Lady fish - 6 cleaned, washed
Garlic paste - 1 tsp
Ginger paste - 1 tsp
Pepper Powder - 1/4 tsp
Kashmiri Chilly Powder - 2 tbsp
Fish Masala - 1 tsp
Turmeric - 1/2 tsp
Salt - 3/4 tsp or as per taste
Vinegar - 2 tbsp
Rava / Semolina - 1 tbsp
Water - 3 tbsp
Curry leaves - 6 leaves
Coconut Oil - 3 tbsp or as required for shallow frying



METHOD
Clean and wash the fish. Make horizontal scores on the fish with a sharp knife.
In a wide bowl put in all the ingredients - ginger paste, garlic paste, pepper powder, chilly powder, fish masala, turmeric, vinegar, salt, rava along with water. Mix well to make a paste.
Place the fish one at a time in the bowl. Coat the masala on it and let it marinate for 30 minutes or at least 15 minutes.
Place a pan on the stove (medium flame). Pour the oil.
When oil is warm put the curry leaves.
Then slowly place the fish. Fry till crisp and golden brown. Flip once done.
Remove and place on a plate lined with kitchen roll.



Tips:
Rava / Semolina is added to make it crisp. It is optional.
Coconut Oil gives that distinct flavour to the fish fry.
You can deep fry it but I prefer to use less oil.
It takes approx 3 minutes to fry on one side. Again it depends on the size of the fish.
When the oil stops cracking check if it done as per your taste (too crisp / just done) and then flip over. 

ReadmoreNongal Fry / Kerala Style Lady Fish Fry

Menjaring Angin (9)

Aku suka Pukat? Yang benar saja. Mas Wukir ini ada-ada saja. Memangnya kalau aku membelikan Pukat makanan berarti aku menyukainya? Dia, kan, bukan satu-satunya teman laki-laki yang kubelikan makanan. Eh, tunggu. Sepertinya ... Selain Mas Wukir, sepertinya memang cuma Pukat teman laki-laki yang kubelikan makanan. Selama ini aku tidak sudi berbaik hati pada teman laki-laki termasuk tidak sudi membelikan makanan. Tapi, bukan berarti aku suka Pukat, kan? Aku tidak suka Pukat. Aku hanya ... Aku hanya ... Aku hanya suka senyumnya, aku hanya suka tatapan matanya yang tetap tenang meskipun aku melancarkan tatapan penuh intimidasi, aku hanya suka bercanda dengannya. Hanya itu. Bukan berarti aku suka Pukat, kan?

***

Setelah beberapa jam berkutat dengan komputer, saatnya aku melarikan diri. Yeah, sudah saatnya makan siang. Itu berarti sudah saatnya kabur ke kantin dan MAKAN! Biasanya di jam makan siang begini kantin ramai. Terlambat sedikit saja, meja sudah penuh. Untungnya ada Matari yang ruangannya paling dekat kantin. Dialah yang paling dulu pergi ke kantin untuk mencari tempat duduk untuk Sasi dan aku. Begitu pun hari ini. Saat aku datang, Matari sudah duduk (sok) manis di meja paling ujung. Masih ada empat kursi kosong lagi. Saat aku baru duduk, Sasi pun datang. Lengkap sudah. Tinggal memesan makanan. Hari itu kami bertiga memesan makanan yang sama: gado-gado. Sepertinya aku sedang beruntung hari ini.
Baca selengkapnya »
ReadmoreMenjaring Angin (9)

Ada Apa Di Kepalamu?

Sudah tiga kali website kantor kami diretas (di-crack). Dan yang ketiga ini yang paling membuatku merasa ngenes dibandingkan dua kejadian sebelumnya. Yang pertama, website kami dibuatkan orang dari kantor pusat, tugasku hanya mengelola. Belum sempat aku mengutak-atik website, ternyata sudah di-crack. Kemudian kami dibantu kawan dari kantor provinsi untuk memperbaikinya. Baru sebentar diperbaiki, baru upload beberapa publikasi, diretas lagi. Setelah itu diputuskan untuk membuat website baru dengan Joomla 2.5 (yang sebelumnya menggunakan Joomla 1.5). Kali ini aku membuat sendiri. Baru seminggu website diaktifkan, sudah diretas lagi. Rasanya? Ngenes. Hasil kerja selama beberapa minggu, sampai meninggalkan pekerjaan lain, dirusak begitu saja. Seperti tukang yang sudah susah payah membangun rumah, lalu ada orang tak dikenal tiba-tiba merobohkannya.

Baca selengkapnya »
ReadmoreAda Apa Di Kepalamu?

Menjaring Angin (8)

Sudah seminggu aku selalu pulang malam. Lembur. Aku harus meng-entry sekaligus mengawasi ketiga stafku yang sedang meng-entry. Eh, sebenarnya bukan cuma mengawasi tiga orang itu. Aku juga mengawasi Pukat dan Baruna, staf Bagian Analisis yang kubajak demi mengejar deadline entry data. Untungnya bulan ini Bagian Analisis belum terlalu sibuk. Sasi dan Matari? Ah, lupakan mereka. Bagian Survei juga sedang sibuk-sibuknya sebagaimana Bagian Pengolahan Data, jadi Sasi tak bisa diganggu. Malam hari adalah jadwalnya memeriksa dokumen survei agar sudah clean ketika diserahkan ke Bagian Pengolahan untuk di-entry. Matari? Dia sudah stress mengatur keuangan, SPJ ini, SPJ itu, laporan keuangan. Dan mengajaknya meng-entry malam sama saja mencari bencana. Bisa-bisa setiap menemukan kesalahan dia mengomel, “Ini yang bikin aplikasi siapa, sih? Error melulu!”

***

“Udah jam sembilan, Mbak. Nggak pulang?” tanya Pukat.

“Iya, bentar lagi. Mau backup hasil entry dulu,” Pawana beranjak menuju server.

Setelah mem-backup hasil entry sementara, Pawana pun berkemas-kemas. Pukat juga ikut berkemas-kemas.

“Ngapain kamu? Mau pulang juga?” tanya Pawana.

“Mau nganterin Mbak Nana pulang. Udah malam,” jawab Pukat.

“Sunu, saya pulang dulu, ya! Kalau udah selesai, jangan lupa backup, terus matikan server. Kalau nanti ada error yang nggak bisa ditangani, biarin aja error. Jangan dipaksa clean. Catat aja error-nya lalu serahin ke saya besok. OK?” kata Pawana pada salah satu stafnya dan kemudian beranjak meninggalkan ruang entry data setelah stafnya itu memberi tanda OK.

“Kamu pinter cari alesan, ya!” kata Pawana pada Pukat begitu mereka keluar dari ruang entry data.

“Alesan apa?” tanya Pukat.

“Bilang aja kamu nggak mau ngentry sampai pagi. Pakai alesan nganterin saya pulang,” sindir Pawana. Pukat hanya tertawa kecil.

“Tapi masih lumayan, lah. Setidaknya kamu masih mau bantu ngentry sampai malam. Makasih.”

“Cuma makasih? Nggak ada imbalan? Beliin kue misalnya.”

“Kamu mau kue apa? Kue nastar? Bolu? Black forest? Atau kue cucur?” canda Pawana.

“Kue cucur boleh juga. Aku suka. Buruan kamu jalan. Aku ngikutin dari belakang,” Pukat bersiap-siap menyalakan sepeda motornya.

“Panggil apa tadi? ‘Kamu’? Heh, yang sopan sama senior!” Pawana mulai memasang tatapan Medusa-nya.

“Memang kenapa, Nana? Nggak boleh?”

“Nana? Nggak pake ‘mbak’?” Pawana makin menajamkan tatapan Medusa-nya. Dan sayangnya, tatapan itu tidak mempan untuk Pukat. Dia tidak membatu. Dia justru tersenyum. Pawana pun segera menyalakan sepeda motornya.

Dan sejak hari itu, selama seminggu Pukat selalu mengantar Pawana pulang.

Baca selengkapnya »
ReadmoreMenjaring Angin (8)

Caramel Bundt Cake

It was quite a relaxed day which started off with the usual school routine and meeting dear ones. But somehow by evening I could not stop myself from baking this ultra moist caramel cake. I am a chocoholic but this time I was sure not to bake a chocolate cake. The next best thing I love is caramel and coffee. This cake is so easy to make without much mess in the kitchen.



INGREDIENTS
Recipe adapted from here

For the cake
All Purpose Flour - 3 cups
Baking Powder - 1 1/2 tsp
Baking Soda - 3/4 tsp
Salt - 1 tsp
Unsalted Butter - 1 cup, softened
Granulated Sugar - 3/4 cup
Light Brown Sugar - 3/4 cup packed
Eggs - 3 large
Vanilla Extract - 1 tbsp
Buttermilk - 1 cup

For the caramel sauce
Light Brown Sugar - 3/4 cup
Condensed Milk - 1/2 cup
Corn Syrup - 2 tsp ( I used honey)
Salt - 1/2 tsp
Butter - 6 tbsp
Vanilla Extract - 1 tsp




METHOD
To make cake

Preheat oven to 350 ° F / 177 ° C. Grease a 10 cup bundt pan and keep aside.
In a bowl mix in the flour, baking powder, baking soda and salt. Sift twice.
To make buttermilk , measure a cup of milk. Add in 1 tbsp vinegar/ lime juice. Mix and let be for 10 minutes.
In another bowl beat butter, sugar and brown sugar until fluffy.
Add in one egg at a time mixing it with each addition.
Add vanilla extract.
Now gradually add flour in small portions alternating with butter milk. Begin and end with flour. Mix until just combined.
Transfer batter into the prepared pan. Bake for 35 - 40 minutes or until a skewer inserted in center comes out clean.
Remove and let cool for 10 minutes. Use a rubber spatula/ plastic knife/frosting spatula to release the cake from the sides. Invert it.

For the caramel
Take a non stick pan and add in the brown sugar, condensed milk, corn syrup and salt. Bring to a boil on low heat stirring constantly. Continue to boil for 4 minutes or until the mixture is smooth.
Remove from heat. Add in the butter and vanilla. Mix well.
Pour on cake.




Baking Tips:

Always preheat the oven before baking.
Make sure you grease every nook and curves of the bundt pan. Dust it with flour and tap off excess.
Do not hesitate to sift the dry ingredients at least once. This way the ingredients are evenly distributed and adds air to the flour. If you are in a hurry sift once and then mix well using a balloon whisk.
It is better to break the eggs into a separate bowl one at a time and then add it to the mixture. This way you don't spoil the whole mixture in case the egg is spoilt.
Make sure the ingredients are at room temperature.
Don't over mix once dry ingredients are added to wet ingredients. Mix on low till just combined.
Place the cake on the middle rack.
Do not be tempted to open the oven before 20 minutes into baking.
Watch the cake through the oven window when the aroma of the cake starts coming. If it looks fully baked test it. Do not over bake. Just pull out the rack a bit ,insert a toothpick or skewer in the middle and if it comes out clean the cake is done. It is better not to remove the cake fully from the oven to do the skewer test. Remove only if it is fully baked.
Do not leave the cake in the oven once baked. It will make it hard.


                             All contents and images on this blog are copyright protected.

ReadmoreCaramel Bundt Cake

Lilin

“Sugeng tanggap warsa, Pak!” ujar Laksmi sambil memeluk Bapak.

“Oalah, Nduk! Bapak sendiri malah lupa ulang tahun Bapak. Memangnya sekarang umur Bapak berapa?” tanya Bapak pada Laksmi.

“Sudah 63 tahun, Pak,” jawab Laksmi.

“Ini, tiup lilinnya dulu. Terus potong kuenya,” Laksmi menyodorkan kue black forest yang permukaannya dipenuhi batangan lilin menyala.

“Lhadalah!” pekik Bapak terkejut melihat banyaknya lilin yang harus dia tiup: 63.



ReadmoreLilin

Kemi: Cinta Kebebasan yang Tersesat

Cover-nya sampai disensor karena 'ngeri'
Kalau kata 'Islam' ditambah 'liberal', menjadi bukan Islam lagi. Itu seperti kata ‘orang’, ditambah kata ‘hutan’. Jadinya ‘orang hutan’. Apa ‘orang hutan’ sama dengan ‘orang’?

Namanya Kemi, lengkapnya Ahmad Sukaimi. Dia adalah santri cerdas di Pesantren Minhajul Abidin di Jawa Timur. Suatu hari dia pamit pada Kyai Rois – pemimpin pesantren Minhajul Abidin – untuk kuliah di Jakarta. Ternyata dia mendapat beasiswa Institut Damai Sentosa, sebuah institut yang kental dengan nuansa ‘liberal’. Setelah kuliah di sana, pikiran Kemi pun mulai terpengaruh paham liberal.

Hingga setahun kemudian Kemi bertemu Rahmat, kawannya sewaktu di pesantren. Dalam obrolan mereka, muncullah perdebatan. Kemi mengkritisi pendapat umat Islam yang selalu menganggap agamanya paling benar. Bagi Kemi, pada dasarnya semua agama benar, semua menuju Tuhan yang satu, hanya saja nama Tuhannya berbeda-beda. Rahmat pun mempertanyakan pendapat Kemi tersebut. Kalau Tuhannya sama, apa mungkin di satu sisi Dia menyatakan bahwa Isa mati disalib dan di sisi lain Dia menyatakan bahwa Isa tidak mati disalib? Apa mungkin Tuhan yang sama di satu sisi mengharamkan babi dan di sisi lain menghalalkan babi? Kalau seorang muslim berpendapat bahwa semua agama lain benar, bukankah berarti dia bukan muslim lagi? Kalau dia memandang semua agama dalam posisi netral, tidak dalam posisi agama manapun, sama artinya dia tidak beragama.
Baca selengkapnya »
ReadmoreKemi: Cinta Kebebasan yang Tersesat